fatayatnumks.or.id

"Kader yang berakhlaqul karimah, kritis, dinamis, inovatif, kreatif, dan profesional"

Penerapan  BRUS untuk Mengurangi Pernikahan Dini di Kota Makassar

Oleh Syamsinar, S.Sos.

Pernikahan anak usia dini merupakan isu sosial yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Makassar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan anak di Indonesia masih relatif tinggi, meskipun telah ada upaya pencegahan. Pernikahan pada usia yang sangat muda sering kali menyebabkan dampak negatif yang signifikan, baik terhadap kesehatan fisik dan mental anak, pendidikan, maupun ekonomi keluarga. Salah satu upaya yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini adalah dengan penerapan program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS), yang bertujuan memberikan pemahaman dan pembekalan mengenai pentingnya kesehatan reproduksi, pendidikan, dan dampak pernikahan dini. Program (BRUS) dirancang untuk menyasar remaja di usia sekolah, memberikan informasi yang dapat meningkatkan kesadaran mereka tentang pernikahan usia dini serta dampaknya. 

Meskipun terdapat berbagai upaya dari pemerintah dan lembaga non-pemerintah untuk menangani permasalahan ini, penerapan program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS) di Kota Makassar belum banyak diteliti. Salah satu bentuk intervensi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini adalah program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS), yang dirancang untuk memberikan pendidikan dan pemahaman kepada remaja tentang pentingnya melanjutkan pendidikan dan konsekuensi dari pernikahan dini. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji efektivitas penerapan (BRUS) dalam mengurangi pernikahan anak usia dini di kota Makassar. Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi yang mengedukasi remaja untuk menunda pernikahan dan lebih fokus pada pengembangan diri serta pendidikan. 

Program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS) adalah salah satu inisiatif yang muncul sebagai solusi untuk menangani masalah tersebut. BRUS dirancang untuk memberikan edukasi kepada remaja di tingkat sekolah menengah tentang konsekuensi pernikahan dini, hak-hak mereka sebagai individu, dan pentingnya melanjutkan pendidikan sebagai investasi masa depan. Dengan pendekatan yang berbasis pada pemberdayaan informasi dan pengembangan karakter, BRUS diharapkan mampu menjadi instrumen yang efektif dalam mengurangi pernikahan anak usia dini di Kota Makassar. Meskipun mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetap menjadi tantangan besar dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesetaraan gender. Pernikahan anak bukan hanya menciptakan tantangan bagi individu yang terlibat, tetapi juga berdampak negatif pada masyarakat secara keseluruhan, mengingat anak yang menikah pada usia dini lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan reproduksi, putus sekolah, dan keterbatasan dalam memperoleh kesempatan kerja yang layak. 

Kota Makassar, sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, menghadapi permasalahan serius pernikahan anak yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Meskipun beberapa kebijakan dan program telah dijalankan untuk mengurangi angka pernikahan anak, namun hal tersebut belum sepenuhnya mengatasi akar masalah yang mendasarinya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan berbasis pada Text Box: 3pemberdayaan remaja untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang risiko pernikahan dini serta pentingnya pendidikan. Namun, pada penerapannya program semacam ini di Kota Makassar masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya koordinasi antar lembaga terkait, keterbatasan sumber daya, serta resistensi dari masyarakat yang masih memegang kuat nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan program bimbingan remaja usia dini  (BRUS) dalam mengurangi pernikahan anak usia dini di Kota Makassar,sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pelaksanaan program tersebut secara berkelanjutan. 

Dengan demikian, penelitian ini dapat dilakukan secara mendalam terhadap penerapan program bimbingan remaja usia dini (BRUS) dan diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi angka pernikahan dini di Kota Makassar, serta meningkatkan kualitas hidup generasi muda di masa mendatang. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan pendekatan yang humanis secara terpadu, salah satunya melalui program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS). Program tersebut dirancang untuk memberikan edukasi, pendampingan, dan penguatan pemahaman kepada remaja tentang pentingnya menunda pernikahan hingga mencapai usia yang matang secara fisik dan mental. Pendekatan berbasis komunikasi dan penyiaran Islam diyakini dapat menjadi instrumen yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual yang relevan, sehingga mampu memengaruhi perilaku dan pola pikir remaja. 

Dalam konteks penyiaran Islam, media dapat digunakan untuk menyoroti isu pernikahan usia dini melalui konten-konten yang relevan, seperti: Ceramah Agama yang membahas tentang: penerapan program bimbingan remaja usia sekolah (BRUS) guna melalui program televisi atau radio Islami yang memberikan panduan dan wawasan kepada remaja serta orang tua. Kemudian melakukan sosialisasi menggunakan media digital dan tradisional untuk mengangkat cerita sukses remaja yang menunda pernikahan demi pendidikan dan pengembangan diri. Dalam perspektif komunikasi Islam, media bukan hanya sebagai alat penyebar informasi, tetapi juga sarana dakwah yang dapat memengaruhi opini publik dan mengarahkan perubahan perilaku. 

Penerapan  BRUS untuk Mengurangi Pernikahan Dini di Kota Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top