fatayatnumks.or.id

"Kader yang berakhlaqul karimah, kritis, dinamis, inovatif, kreatif, dan profesional"

Aktivis Fatayat: menjadi Guru sebagai Gerakan Pemberdayaan

Makassar, Selasa, 4 Februari 2025. Tim Redaksi Website PC Fatayat NU Kota Makassar menerima kisah inspiratif dari Koordinator Bidang Sosial, Seni, dan Budaya, Sahabat St. Nurliah, S.Pd. yang juga adalah Ketua PAC Fatayat Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Sahabat Nurliah berbagi kisah tentang proses perjalanannya menjadi aktivis di Fatayat Nahdlatul Ulama. Ia adalah seorang guru RA dan sekaligus Kepala RA di tempatnya mengabdi. RA Al-Husnaa Buloa adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muslimat NU Kota Makassar pada Era kepemimpinan Dra. Hj. Syukriah Ahmad. Sahabat Nurliah di kemudian hari menjadi menantu Hj. Syukriah setelah dipersunting kemanakan Beliau, Khaeruddin Sulaeman, S.E., Pengurus NU Kecamatan Bontoala Makassar.

Berikut penuturan perjalanan sahabat Nurliah:

Berawal dari tahun 2007, setamat SMA( Sekolah Menengah Atas) sambil menunggu hasil ujian masuk Universitas Negeri di Makassar, di wilayah tempat tinggal saya kedatangan sebuah organisasi, waktu itu belum saya tahu namanya, tapi membuat saya terkesan dan tertarik. Mereka sudah berumur tapi masih semangat berkegiatan dan baru saya tahu, kemudian, nama organisasinya MUSLIMAT NU. Tujuan awalnya untuk membentuk sebuah sekolah binaan RA (Raudhatul Athfal) karena pada saat itu di lingkungan saya masih belum ada sekolah TK yang dapat dijangkau. Akhirnya dengan kesepakatan tokoh masyarakat dan pemerintah setempat dibukalah sekolah tersebut yang di beri nama Ra Al-Husnaa Buloa.

Terbentuknya sekolah ini bukan hanya bertujuan untuk membantu kualitas pendidikan tetapi juga memberikan kesempatan kepada warga setempat untuk ikut serta mengabdikan diri mengajar dan menjadi salah satu guru di RA Al-Husnaa.

Kemudian saya memberanikan diri mendaftar sebagai guru yang baru didirikan tersebut. Alhamdulillah saya diterima menjadi salah satu dari guru RA tersebut. Karena sekolah ini kami tahu dibentuk oleh organisasi keagamaan yang di dalamnya tidak ada kata gaji, jadi awalnya kami semua mengajar dengan keikhlasan.

Banyak cerita suka dan duka yang telah saya lewati, mengajar sambil kuliah, kemudian memutuskan untuk menikah dan tidak ikut suami, saat itu, bertugas di daerah Sengkang, Sulawesi Selatan demi tetap konsisten untuk mengajar. Alhamdulillah dari pengalaman menjadi seorang guru di situ juga saya belajar menjadi seorang ibu dari ke empat anak saya yang setiap hari mereka saya bawa ke sekolah untuk menemani saya mengajar.

Terkadang ada rasa lelah menghampiri karena untuk mencapai sekolah saat itu masih jauh sambil menggendong anak berjalan kaki, dan waktu lahir anak ke dua si Ade di gendong dengan tangan satu si kakak digenggam,dan berlanjut sampai sekarang dengan anak ke empat. Tapi semua lelah itu tergantikan langsung dengan senyuman manis anak-anak kecilku yang menunggu di sekolah sambil memanggil dengan tulus IBU GUYUUU…

Dari mereka saya belajar arti keikhlasan, dari mereka saya belajar kesabaran, dari mereka saya belajar saya belajar arti berjuang dengan menyayangi, dari mereka saya belajar banyak kebaikan.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan RA Al-Husnaa Buloa:

Penamatan Angkatan I RA Al-Husnaa Buloa, Bersama Pendiri sekaligus Kepala RA Pertama, Dr. Hj. Syukriah Ahmad (Kiri). Sahabat St. Nurliah, S.Pd. (Kepala RA sekarang) (nomor 3 dari kiri)
Kegiatan Berbagi di Bulan Suci Ramadhan dengan masyarakat sekitar RA Al-Husnaa Buloa

Kisah sahabat Nurliah memberi kita pemahaman tentang makna perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan.

Bagaimana sahabat Nurliah berjuang untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana demi melanjutkan pengabdiannya sebagai guru di lembaga pendidikan di daerahnya demi memberikan kemudahan akses pendidikan kepada masyarakat di tempat tinggalnya.

Bagaimana bersabar saat harus berpisah dengan suami yang sedang mendapatkan tugas negara sebagai ASN di Sengkang kabupaten Wajo dan harus berjauhan dengan suami saat-saat membutuhkan seseorang di sampingnya, saat dia mengandung anaknya yang pertama dan kedua. Kemudian harus mengurus anak-anaknya sendiri dan tetap menjalankan tugas sebagai guru di RA tempat dia bekerja.

Bagaimana ikhlas dengan seluruh keadaan, di awal menjadi guru harus ikhlas bahwa dia tidak mengharapkan gaji tetap sebagaimana guru pada umumnya. Ikhlas pada saat memutuskan untuk tidak ikut suami di tempat kerjanya demi tetap melanjutkan pengabdiannya sebagai guru di tempat tinggalnya, Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Ikhlas mengurus diri saat mengandung, jauh dari suami, dan mengurus anak tanpa didampingi suami.

Bahwa perjuangan, kesabaran, dan keikhlasannya telah memberinya banyak kebahagiaan. Kini, di rumah sederhananya, dia telah berkumpul kembali dengan suami tercintanya yang telah bertugas kembali di Kemenag Kota Makassar. Perjuangannya membina RA yang telah mendapat perhatian dari negara dengan mendapatkan bantuan operasional yang artinya telah mampu memberi guru-gurunya sedikit kesejahteraan.

Sungguh kisah inspiratif yang dapat dijadikan contoh bagaimana harus berjuang, bersabar, dan ikhlas dalam setiap keadaan.

Aktivis Fatayat: menjadi Guru sebagai Gerakan Pemberdayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top